Nyeri Pinggang / Low Back Pain
Pengertian
Nyeri Pinggang
Dalam bahasa
kedokteran Inggris, pinggang dikenal sebagai “low back”. Secara anatomik
pinggang adalah daerah tulang belakang L-1 sampai seluruh tulang sakrum dan
otot-otot sekitarnya. Tulang belakang lumbal sebagai unit struktural dalam
berbagai sikap tubuh dan gerakan dapat ditinjau dari sudut mekanika. Beban yang
ditanggung oleh tulang belakang lumbal dapat dipelajari dengan diskus
intervertebralis antara L-5 sampai S-1 atau L-4 dan L-5 sebagai titik tumpuan.
Bila mengangkat benda berat, tangan, lengan dan badan dapat dianggap sebagai
lengan beban posterior pendek, yang berjarak dari pusat diskus intervertebralis
sampai prosessus spinosus belakang.
Penyelidikan
itu menghasilkan perbandingan antara lengan beban anterior dan posterior, yakni
15 lawan 1. Ini berarti bahwa untuk dapat mengangkat benda seberat 50 kg lengan
beban posterior itu harus diimbangi dengan bobot sebesar 750 kg. Tenaga yang
mengimbangi lengan beban posterior itu adalah tenaga yang dihasilkan oleh
kontraksi otot-otot.
Berdasarkan
azas mekanika itu, perhitungan-perhitungan yang lebih kompleks telah dilakukan.
Seseorang yang berat badannya 75 kg mengangkat benda seberat 90 kg. Benda itu
berada 35 cm dari diskus intervertebralis antara L-5 dan S-1. Sedangkan fleksi
tulang belakang pada pelvis adalah sebesar 40ยบ. Dengan perhitungan bahwa bobot
total dari kepala, leher, dan kedua lengan seberat 13 ½ kg dan bobot badan di
atas L-1 sampai S-1 sepanjang 45 cm dan jarak antara toraks ke L-5 hingga S-1
sepanjang 15 cm, maka tenaga yang mengimbangi beban keseluruhan itu pada diskus
intervertebralis L-5 sampai S-1 adalah 9391,9 kg.
Dari
penyelidikan tersebut di atas telah jelas peranan otot-otot erektor trunksi
yang memberikan tenaga imbangan ketika mengangkat benda. Di samping itu tenaga
otot abdominalis berperanan juga dalam masalah sokoguru. Dengan menggunakan
alat petunjuk tekanan yang ditempatkan di dalam nukleus pulposus manusia,
tekanan intradiskal dapat diselidiki pada berbagai sikap tubuh dan keadaan.
Sebagai standar dipakai tekanan intradiskal ketika berdiri tegak.
Tekanan
intradiskal yang meningkat pada berbagai sikap dan keadaan itu diimbangi oleh
tenaga otot abdominal dan torakal. Hal ini dapat diungkapkan oleh penyelidikan
yang menggunakan korset toraks atau abdomen yang bisa dikembungkempiskan yang
dikombinasi dengan penempatan alat penunjuk tekanan di dalam lambung. Hasil
penyelidikan tersebut mengungkapkan bahwa 30% sampai 50% dari tekanan
intradiskal torakal dan lumbal dapat dikurangi dengan mengencangkan otot-otot
torakal dan abdominal sewaktu melakukan pekerjaan dan dalam berbagai posisi.
Kontraksi
otot-otot torakal dan abdominal yang sesuai dan tepat dapat meringankan beban
tulang belakang sehingga tenaga otot yang relevan merupakan mekanisme yang
melindungi tulang belakang. Secara sederhana, kolumna vertebralis torakolumbal
dapat dianggap sebagai tong dan otot-otot torakal serta lumbal sebagai simpai
tongnya.
Perkembangan
Konsep Ilmu Nyeri Pinggang
Sejarah
kedokteran mencerminkan konsep-konsep yang banyak dipengaruhi oleh pengetahuan
pada tahap-tahap tertentu. Karena dulu data penyelidikan yang diuraikan di atas
belum diketahui, maka hampir semua jenis sakit pinggang dianggap sebagai
manifestasi perubahan degeneratif pada diskus intervertebralis yang mengenai
anulus fibrosisnya belaka. Pada masa berikutnya, hernia nukleus pulposus
sebagai faktor etiologik sakit pinggang paling sering didiagnosa. Kini, oleh
karena peranan unsur miofasial telah banyak dikenal, sakit pinggang lebih
sering dianggap sebagai manifestasi proses patologik pada komponen miofasial
susunan neuromuskuloskeletal.
Mendiagnosa
nyeri pinggang atau low back pain harus sesuai dengan keadaan sebenarnya, yang
dapat diungkapkan oleh anamnesa dan tindakan pemeriksaan (diagnostik fisik).
Pengaruh zaman dan mitos hendaknya dikenal pada proporsi yang wajar. Pengaruh
zaman menciptakan ‘mode’ dalam praktek kedokteran. Ilmu kedokteran klinis telah
dilanda oleh ‘mode’. Pada suatu masa semua jenis ‘low back pain’ cenderung
dianggap sebagai manifestasi spondilosis berikut hernia nukleus pulposus.
Kemudian, ‘low back pain’ selalu mengalami penilaian sebagai hasil ‘lumbosacral
strain’, dan pada masa berikutnya ‘wabah’ sakit pinggang psikogenik timbul oleh
karena para klinikus ‘dilanda latah’ faktor etiologik yang bersifat psikogenik.
Kini, karena
sering dibuat penekanan-penekanan pada pentingnya peranan unsur miofasial dalam
patogenesis nyeri neuromuskuloskeltal, mungkin sekali diagnosa ‘mode’ akan
membuka pasarannya, dimana ‘low back pain’ terlampau sering dianggap sebagai
manifestasi proses patologik di unsur miofasial.
Faktor
Resiko Nyeri Pinggang
Faktor Umur
Nyeri pinggang merupakan keluhan yang berkaitan erat dengan umur. Secara teori, nyeri pinggang atau nyeri punggung bawah dapat dialami oleh siapa saja, pada umur berapa saja. Namun demikian keluhan ini jarang dijumpai pada kelompok umur 0-10 tahun, hal ini mungkin berhubungan dengan beberapa faktor etiologik tertentu yag lebih sering dijumpai pada umur yang lebih tua. Biasanya nyeri ini mulai dirasakan pada mereka yang berumur dekade kedua dan insiden tertinggi dijumpai pada dekade kelima.1 Bahkan keluhan nyeri pinggang ini semakin lama semakin meningkat hingga umur sekitar 55 tahun.
Nyeri pinggang merupakan keluhan yang berkaitan erat dengan umur. Secara teori, nyeri pinggang atau nyeri punggung bawah dapat dialami oleh siapa saja, pada umur berapa saja. Namun demikian keluhan ini jarang dijumpai pada kelompok umur 0-10 tahun, hal ini mungkin berhubungan dengan beberapa faktor etiologik tertentu yag lebih sering dijumpai pada umur yang lebih tua. Biasanya nyeri ini mulai dirasakan pada mereka yang berumur dekade kedua dan insiden tertinggi dijumpai pada dekade kelima.1 Bahkan keluhan nyeri pinggang ini semakin lama semakin meningkat hingga umur sekitar 55 tahun.
Jenis
Kelamin
Laki-laki dan perempuan memiliki resiko yang sama terhadap keluhan nyeri pinggang sampai umur 60 tahun, namun pada kenyataannya jenis kelamin seseorang dapat mempengaruhi timbulnya keluhan nyeri pinggang, karena pada wanita keluhan ini lebih sering terjadi misalnya pada saat mengalami siklus menstruasi, selain itu proses menopause juga dapat menyebabkan kepadatan tulang berkurang akibat penurunan hormon estrogen sehingga memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.
Laki-laki dan perempuan memiliki resiko yang sama terhadap keluhan nyeri pinggang sampai umur 60 tahun, namun pada kenyataannya jenis kelamin seseorang dapat mempengaruhi timbulnya keluhan nyeri pinggang, karena pada wanita keluhan ini lebih sering terjadi misalnya pada saat mengalami siklus menstruasi, selain itu proses menopause juga dapat menyebabkan kepadatan tulang berkurang akibat penurunan hormon estrogen sehingga memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.
Faktor
Indeks Massa Tubuh
1.Berat Badan
Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih resiko timbulnya nyeri pinggang lebih besar, karena beban pada sendi penumpu berat badan akan meningkat, sehingga dapat memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.
1.Berat Badan
Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih resiko timbulnya nyeri pinggang lebih besar, karena beban pada sendi penumpu berat badan akan meningkat, sehingga dapat memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.
2. Tinggi
Badan
Tinggi badan berkaitan dengan panjangnya sumbu tubuh sebagai lengan beban anterior maupun lengan posterior untuk mengangkat beban tubuh.
Tinggi badan berkaitan dengan panjangnya sumbu tubuh sebagai lengan beban anterior maupun lengan posterior untuk mengangkat beban tubuh.
Pekerjaan
Keluhan nyeri ini juga berkaitan erat dengan aktivitas mengangkat beban berat, sehingga riwayat pekerjaan sangat diperlukan dalam penelusuran penyebab serta penanggulangan keluhan ini. Pada pekerjaan tertentu, misalnya seorang kuli pasar yang biasanya memikul beban di pundaknya setiap hari. Mengangkat beban berat lebih dari 25 kg sehari akan memperbesar resiko timbulnya keluhan nyeri pinggang.3
Keluhan nyeri ini juga berkaitan erat dengan aktivitas mengangkat beban berat, sehingga riwayat pekerjaan sangat diperlukan dalam penelusuran penyebab serta penanggulangan keluhan ini. Pada pekerjaan tertentu, misalnya seorang kuli pasar yang biasanya memikul beban di pundaknya setiap hari. Mengangkat beban berat lebih dari 25 kg sehari akan memperbesar resiko timbulnya keluhan nyeri pinggang.3
Aktivitas /
Olahraga
Sikap tubuh yang salah merupakan penyebab nyeri pinggang yang sering tidak disadari oleh penderitanya. Terutama sikap tubuh yang menjadi kebiasaan. Kebiasaan seseorang, seperti duduk, berdiri, tidur, mengangkat beban pada posisi yang salah dapat menimbulkan nyeri pinggang, misalnya, pada pekerja kantoran yang terbiasa duduk dengan posisi punggung yang tidak tertopang pada kursi, atau seorang mahasiswa yang seringkali membungkukkan punggungnya pada waktu menulis. Posisi berdiri yang salah yaitu berdiri dengan membungkuk atau menekuk ke muka. Posisi tidur yang salah seperti tidur pada kasur yang tidak menopang spinal. Kasur yang diletakkan di atas lantai lebih baik daripada tempat tidur yang bagian tengahnya lentur. Posisi mengangkat beban dari posisi berdiri langsung membungkuk mengambil beban merupakan posisi yang salah, seharusnya beban tersebut diangkat setelah jongkok terlebih dahulu.6
Selain sikap tubuh yang salah yang seringkali menjadi kebiasaan, beberapa aktivitas berat seperti melakukan aktivitas dengan posisi berdiri lebih dari 1 jam dalam sehari, melakukan aktivitas dengan posisi duduk yang monoton lebih dari 2 jam dalam sehari, naik turun anak tangga lebih dari 10 anak tangga dalam sehari, berjalan lebih dari 3,2 km dalam sehari dapat pula meningkatkan resiko timbulnya nyeri pinggang.
Sikap tubuh yang salah merupakan penyebab nyeri pinggang yang sering tidak disadari oleh penderitanya. Terutama sikap tubuh yang menjadi kebiasaan. Kebiasaan seseorang, seperti duduk, berdiri, tidur, mengangkat beban pada posisi yang salah dapat menimbulkan nyeri pinggang, misalnya, pada pekerja kantoran yang terbiasa duduk dengan posisi punggung yang tidak tertopang pada kursi, atau seorang mahasiswa yang seringkali membungkukkan punggungnya pada waktu menulis. Posisi berdiri yang salah yaitu berdiri dengan membungkuk atau menekuk ke muka. Posisi tidur yang salah seperti tidur pada kasur yang tidak menopang spinal. Kasur yang diletakkan di atas lantai lebih baik daripada tempat tidur yang bagian tengahnya lentur. Posisi mengangkat beban dari posisi berdiri langsung membungkuk mengambil beban merupakan posisi yang salah, seharusnya beban tersebut diangkat setelah jongkok terlebih dahulu.6
Selain sikap tubuh yang salah yang seringkali menjadi kebiasaan, beberapa aktivitas berat seperti melakukan aktivitas dengan posisi berdiri lebih dari 1 jam dalam sehari, melakukan aktivitas dengan posisi duduk yang monoton lebih dari 2 jam dalam sehari, naik turun anak tangga lebih dari 10 anak tangga dalam sehari, berjalan lebih dari 3,2 km dalam sehari dapat pula meningkatkan resiko timbulnya nyeri pinggang.
Penyakit-Penyakit
yang Berhubungan dengan Keluhan Nyeri Pinggang
Dalam
klinik, terdapat penyakit-penyakit yang memang memiliki keluhan nyeri pinggang,
seperti :
1. Proses
degeneratif, meliputi: spondilosis, HNP, stenosis spinalis, osteoartritis.
Perubahan
degeneratif pada vertebrata lumbosakralis dapat terjadi pada korpus vertebrae
berikut arkus dan prosessus artikularis serta ligamenta yang menghubungkan
bagian-bagian ruas tulang belakang satu dengan yang lain. Dulu proses
degneratif ini dikenal sebagai osteoartrosis deformans, tapi kini dinamakan
spondilosis. Perubahan degeneratif dapat juga mengenai anulus fibrosis diskus
intervertebralis yang bila pada suatu saat terobek dapat disusul dengan
protusio diskus intervertebralis yang akhirnya menimbulkan hernia nukleus
pulposus (HNP). Unsur tulang belakang lain yang sering dilanda proses
degeneratif ialah kartilago artikularisnya, yang dikenal sebagai osteoartritis.
2. Penyakit
inflamasi.
Nyeri
pinggang akibat inflamasi terbagi menjadi 2 macam, yang pertama adalah pada
artritis rematoid, yang sering timbul sebagai penyakit akut. Persendian keempat
anggota gerak dapat terkena secara serentak atau dengan selisih beberapa
hari/minggu. Yang kedua adalah pada spondilitis angkilopoetika. Keluhan yang
paling dini dihadapi oleh penderita ialah sakit punggung dan sakit pinggang.
Sifatnya ialah pegal-kaku dan pada waktu dingin dan sembab linu dan ngilu
dirasakan.
3.
Osteoporotik
Sakit
pinggang pada orang tua dan jompo, terutama kaum wanita, seringkali disebabkan
oleh osteoporosis. Sakitnya bersifat pegal. Nyeri yang tajam atau nyeri atau
nyeri radikular dapat juga disajikan sebagai keluhan.
4. Kelainan
kongenital
Anomali
kongenital yang diperlihatkan foto rontgen polos dari vertebrae lumbosakralis
terlampau sering dianggap sebagai kelainan yang mendasari sakit pinggang. Spina
bifida okultra sering ditemukan pada foto rontgen polos para penderita yang
berkunjung ke dokter bukan karena sakit pinggang, melainkan, misalnya, keluhan
urogenital atau gastrointestinal. Lumbalisasi atau adanya 6 bukan 5 korpus
vertebrae lumbalis merupakan variasi anatomik yang tidak mengandung arti
patologik. Demikian juga sakralisasi, yaitu adanya 4 bukan 5 korpus vertebrae
lumbalis.
5. Gangguan
sirkulatorik
Adakalanya
aneurisma aorta abdominalis dapat membangkitkan sakit pinggang yang hebat, yang
dapat menyerupai sprung back atau HNP. Seyogyanya aneurisma aorta abdominalis
sebagai pembangkit sakit pinggang yang hebat teringat bilamana kita mengahadapi
seorang pasien yang berumur lebih dari 50 tahun, yang sudah pernah mendapat
‘stroke’ ringan, sudah memperlihatkan tanda-tanda arteriosklerosis seperti
tungkai bawah selalu dingin dan pulsasi arteri perifer yang lemah. Dalam hal
ini palpasi abdominal untuk mencari benjolan yang berpulsasi adalah suatu
tindakan untuk cepat mendiagnosa aneurisma aorta abdominalis.
Gangguan
sirkulatorik yang lain, yaitu trombosis aorta terminalis, perlu mendapat
perhatian oleh karena mudah didiagnosa sebagai HNP. Gejala-gejala yang timbul
akibat trombosis aorta terminalis ini dikenal sebagai sindrom Leriche. Anamnesa
pasien biasanya seragam. Sakit pinggang yang dapat meluas ke bokong, belakang
paha dan tungkai kedua sisi. Bilamana ditanyakan mengenai sifat-sifat sakit
pinggangnya, terungkaplah bahwa sakit pinggangnya terasa kalau berbaring, duduk
dan berdiri, tapi kalau berjalan baru timbul sakit pinggang.
Anamnesis
Nyeri Pinggang
Anamnesis
yang cermat dan terperinci tentang sifat nyeri, saat timbulnya, lokalisasi
serta radiasinya sangat diperlukan dalam menetapkan diagnosa. Perlu ditanyakan
tentang peristiwa sebelumnya yang mungkin menjadi pencetus keluhan, seperti
adanya trauma, sikap tubuh yang salah, misalnya waktu mengangkat beban,
kegiatan fisik atau olahraga yang tidak biasa, dan penyakit yang dapat
berhubungan dengan keluhan nyeri pinggang tersebut.
Adanya
keluhan neurologis perlu diperhatikan dan perlu pemeriksaan neurologis yang
lebih teliti, dan bahkan perlu pemeriksaan kemungkinan adanya tanda keganasan.
Pemeriksaan rontgen terutama untuk kelainan tulang dan persendian sangat
diperlukan, bahkan perlu teknik khusus dan alat lebih canggih seperti MRI, CT
Scan, EMG, dan lain-lain. Pemeriksaaan laboratorium sangat membantu untuk
menentukan penyakit sistemik yang mungkin sebagai penyebab nyeri pinggang.
Penyebab
nyeri pinggang ini sangat bervariasi dari yang ringan seperti sikap tubuh yang
salah sampai yang berat dan sangat serius, misalnya oleh keganasan. Kondisi
psikologis seperti neurosis, histeria dan reaksi konversi mungkin pula berkaitan
dengan nyeri pinggang. Depresi lebih jarang sebagai penyebab nyeri pinggang,
sebaliknya depresi sering timbul sebagai komplikasi nyeri pinggang kronik.
Tindakan
Diagnostik Fisik Pada Nyeri Pinggang
Seringkali
pasien tidak dapat menunjukkan lokasi sakit pinggangnya secara tepat. Oleh
karena itu berbagai tindakan pemeriksaan dilakukan untuk membangkitkan nyeri
pinggang.
Pemeriksaan
dimulai pada saat pasien masuk ke dalam ruang periksa. Gaya berjalannya
diperhatikan, cara pasien duduk diobservasi dan juga sikap duduk yang
disukainya harus diketahui.
Sebagai
titik tolak pemeriksaan dapat dipakai tempat nyeri yang ditunjuk pasien atau
yang telah diprovokasi dengan gerakan tulang belakang atau dengan penekanan
pada lamina-lamina atupun dengan tes melipat atau menggulung kulit.
Perhatian
dan pemeriksaan diarahkan pada:
1. Posisi pelvis, selisih panjang tungkai, posisi krista iliaka.
2. Bentuk kolumna vertebralis torakolumbal dan lumbosakral berikut deformitasnya.
3. Meneliti adanya atrofi atau spasmus di sekitar lokasi nyeri.
4. Batas lingkup gerakan tulang belakang lumbosakral
5. Hasil tes Lasegue, tes O’Connel, tes Patrick, tes kebalikan Patrick, tes Gaenslen.
6. Kelainan-kelainan neurologik:
a. Adakah iskhialhia.
b. Adakah defisit motorik pada kedua tungkai.
c. Adakah defisit sensorik pada kedua tungkai.
d. Adakah gangguan sfinkter ani dan uretrae.
e. Adakah tanda-tanda UMN dan LMN.
1. Posisi pelvis, selisih panjang tungkai, posisi krista iliaka.
2. Bentuk kolumna vertebralis torakolumbal dan lumbosakral berikut deformitasnya.
3. Meneliti adanya atrofi atau spasmus di sekitar lokasi nyeri.
4. Batas lingkup gerakan tulang belakang lumbosakral
5. Hasil tes Lasegue, tes O’Connel, tes Patrick, tes kebalikan Patrick, tes Gaenslen.
6. Kelainan-kelainan neurologik:
a. Adakah iskhialhia.
b. Adakah defisit motorik pada kedua tungkai.
c. Adakah defisit sensorik pada kedua tungkai.
d. Adakah gangguan sfinkter ani dan uretrae.
e. Adakah tanda-tanda UMN dan LMN.
Kondisi
inflamatorik pada tulang lumbosakral mengakibatkan mendatarnya lordosis
lumbosakralis. Kolumna vertebralis bergerak sebagai suatu lesi padanya. Para
penderita dengan spondilosis memperlihatkan pembatasan lingkup gerakan fleksi
dan ekstensi, namun lingkup gerakan lateralnya masih cukup baik. Sebaliknya,
pada spondilitis angkilopoetika fleksi lateral sudah sangat terbatas pada tahap
dini.
Pengobatan
Nyeri Pinggang
Penderita nyeri pinggang terbagi menjadi dua kelompok berdasarkan cara yang ditempuh untuk menanggulangi nyeri pinggang yaitu kelompok pertama yang pergi ke dokter untuk memperoleh pertolongan medis dan kelompok yang berusaha menanggulangi sendiri nyerinya dengan cara istirahat, minum jamu, mengoleskan parem, mengoleskan minyak gosok, dan pijat tradisional.
Penanggulangan nyeri pinggang bertujuan untuk mengatasi rasa nyeri, mengembalikan fungsi pergerakan dan mobilitas, mengurangi residual impairment, pencegahan kekambuhan, serta pencegahan timbulnya nyeri kronik. Perlu diperhatikan walaupun yang terbaik adalah memberikan pengobatan sesuai dengan penyebab nyeri, tetapi sangat sulit menentukannya pada fase akut nyeri atau bahkan pada nyeri kronik sekalipun.1
Nyeri pinggang dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan, istirahat, dan modalitas. Penjelasan singkat penatalaksanaan perlu diberikan dan hindari penggunaan istilah yang tidak banyak dimengerti oleh awam atau dapat menimbulkan rasa takut seperti kata nyeri psikiatrik, artritis, spasme, penyakit diskogenik, dan sebagainya.
Pemberian obat anti inflamasi non steroid (OAINS) diperlukan untuk jangka waktu pendek disertai dengan penjelasan kemungkinan efek samping dan interaksi obat. Tidak dianjurkan penggunaan muscle relaxan karena memiliki efek depresan. Pada tahap awal, apabila didapati pasien dengan depresi premorbid atau timbul depresi akibat rasa nyeri, pemberian anti depresan dianjurkan. Untuk pengobatan simptomatis lainnya, kadang-kadang memerlukan campuran antara obat analgesik, antiinflamasi, OAINS, dan penenang.
Istirahat secara umum atau lokal banyak memberikan manfaat. Tirah baring pada alas yang keras dimaksudkan untuk mencegah melengkungnya tulang punggung Modalitas itu bisa berupa kompres es, semprotan etil klorida, dan fluorimetan.
Nyeri tidak selalu dapat diatasi dengan cara-cara di atas. Terkadang diperlukan tindakan injeksi anestetik atau anti inflamasi steroid pada tempat-tempat tertentu seperti pada faset, radiks saraf, epidural, intradural.
Setelah fase akut teratasi dilakukan beberapa pencegahan kekambuhan diantaranya pelatihan peregangan dan pemakaian korset atau bracing.
Penderita nyeri pinggang terbagi menjadi dua kelompok berdasarkan cara yang ditempuh untuk menanggulangi nyeri pinggang yaitu kelompok pertama yang pergi ke dokter untuk memperoleh pertolongan medis dan kelompok yang berusaha menanggulangi sendiri nyerinya dengan cara istirahat, minum jamu, mengoleskan parem, mengoleskan minyak gosok, dan pijat tradisional.
Penanggulangan nyeri pinggang bertujuan untuk mengatasi rasa nyeri, mengembalikan fungsi pergerakan dan mobilitas, mengurangi residual impairment, pencegahan kekambuhan, serta pencegahan timbulnya nyeri kronik. Perlu diperhatikan walaupun yang terbaik adalah memberikan pengobatan sesuai dengan penyebab nyeri, tetapi sangat sulit menentukannya pada fase akut nyeri atau bahkan pada nyeri kronik sekalipun.1
Nyeri pinggang dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan, istirahat, dan modalitas. Penjelasan singkat penatalaksanaan perlu diberikan dan hindari penggunaan istilah yang tidak banyak dimengerti oleh awam atau dapat menimbulkan rasa takut seperti kata nyeri psikiatrik, artritis, spasme, penyakit diskogenik, dan sebagainya.
Pemberian obat anti inflamasi non steroid (OAINS) diperlukan untuk jangka waktu pendek disertai dengan penjelasan kemungkinan efek samping dan interaksi obat. Tidak dianjurkan penggunaan muscle relaxan karena memiliki efek depresan. Pada tahap awal, apabila didapati pasien dengan depresi premorbid atau timbul depresi akibat rasa nyeri, pemberian anti depresan dianjurkan. Untuk pengobatan simptomatis lainnya, kadang-kadang memerlukan campuran antara obat analgesik, antiinflamasi, OAINS, dan penenang.
Istirahat secara umum atau lokal banyak memberikan manfaat. Tirah baring pada alas yang keras dimaksudkan untuk mencegah melengkungnya tulang punggung Modalitas itu bisa berupa kompres es, semprotan etil klorida, dan fluorimetan.
Nyeri tidak selalu dapat diatasi dengan cara-cara di atas. Terkadang diperlukan tindakan injeksi anestetik atau anti inflamasi steroid pada tempat-tempat tertentu seperti pada faset, radiks saraf, epidural, intradural.
Setelah fase akut teratasi dilakukan beberapa pencegahan kekambuhan diantaranya pelatihan peregangan dan pemakaian korset atau bracing.
