TUGAS MAKALAH PEMIKIRAN DAN PERADAPAN ISLAM PENGUMPULAN/PEMBUKAAN AS SUNNAH



TUGAS MAKALAH PEMIKIRAN DAN PERADAPAN ISLAM
PENGUMPULAN/PEMBUKAAN AS SUNNAH












Oleh :
PURWOHADI SULAMPOKO   (14613107)


Kelas : B

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PRODI FARMASI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2015






BAB 1
PENDAHULUAN
Dalam memahami ilmu hadits kita perlu mengenal bagaimana sejarah penulisan atau pembukuan hadits. Masa pembentukan hadits dimulai pada masa kerasulan Nabi Muhammad saw, itu sendiri. Dalam masa lebih kurang 23 tahun, itulah sumber atau bahan hadits. Pada masa ini Al-Hadits belum ditulis dan hanya berada dalam benak (hafalan) atau dalam ingatan para sahabat saja.
Berita tentang sabda perilaku tindakan dalam keseharian Nabi Muhammad saw dicatat, diingatatau dihafal oleh para sahabatyang menyertai beliau. Berita-berita yang didapat dari seorang sahabat, atau lebih yang kebetulan hadir atau menyakasikan peristiwa saat itu. Berita itu kemudian disampaikan kepada sahabat yang lain yang kebetulan tidak hadir atau tidak menyaksikan.
Pada masa Rasulullah saw, masih hidup hadits belum  ditulis dan berada dalam ingatan atau hafalan para sahabat.para sahabat belum ada urgensi untuk menuliskan hadits disebabtkan Nabi masih mudah dihubungi untuk dimintai keterangan-keterangan tentang segala sesuatu. Diatara sahabat tidak semuanya bergaul dengan Nabi, ada yang sering menyertai dan ada yang beberapa kali saja bertemu dengan Nabi. Oleh sebab itu Al-Hadits yang dimiliki oleh sahabat tidak selalu sama banyaknya ataupun macamnya.
 Keadaan hadits pada masa Rasul saw bahwa Rasulullah melarang untuk menuliskan hadits ini karena Rasul takut bercampurnya antara Al-Qur’an dengan hadits ini, itulah sebabnya kenapa Rasul melarang dalam menuliskan Hadits ini.








BAB 2
PEMBAHASAN
Penyampaian hadits dilakukan dengan sangat hati-hati, karena menyangkut masalah-masalah agama. Hal ini sengaja dilakukan demi menjaga apabila dalam penyampaiannya terjadi kesalahan. Sebagaimana dijelaskan oleh az-Zubair, “Mereka yang kuat ingatannya telah menyampaikan hadits tanpa ada kesalahan, seperti Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud dan Abu Hurairah.”
As-Sunnah disalin dengan sangat hati-hati, baik dengan jalan hafalan maupun tulisan. Hal ini telah berlangsung sejak zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan zaman para Shahabat sampai akhir abad pertama, hingga kemudian lembaran-lembaran yang berisikan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dikumpulkan pada masa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Di mana ia memerintahkan Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm untuk menulis dan mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang sejak itu pula dimulai ilmu periwayatan hadits. Kata khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz kepada Abu Bakar bin Muhammad, “Perhatikanlah hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu tulislah hadits-hadits itu, karena sesungguhnya aku khawatir akan hilangnya ilmu dengan wafatnya para ulama, dan janganlah diterima melainkan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam saja.”
Setelah Abu Bakar bin Muhammad menerima perintah khalifah, ia pun memerintahkan Ibnu Syihab az-Zuhri, seorang ulama besar dan pemuka ahli hadits, untuk mengumpulkan hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam secara resmi. Tentang adanya periwayatan hadits, memang telah ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri dalam salah satu sabdanya:
تَسْمَعُوْنَ وَيُسْمَعُ مِنْكُمْ وَيُسْمَعُ مِمَّنْ سَمِعَ مِنْكُمْ
Artinya :
“Sekarang kalian mendengar, dan kalian nanti akan didengar, dan akan didengar pula dari orang yang mendengar dari kalian.”

        Maksudnya, para Shahabat mendengar hadits-hadits dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, melihat perbuatan-perbuatan beliau, sifat-sifat beliau, dan segala perbuatan yang ditaqrir oleh beliau, kemudian para Shahabat meriwayatkannya (sesudah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam wafat), riwayat para Shahabat akan didengar, diperlihatkan, dan dicatat oleh para Tabi'in. Begitu selanjutnya, para Tabi'in yang mendengar hadits dari para Shahabat akan meriwayatkan lagi, yang juga akan didengar dan dicatat oleh Tabi’ut Tabi’in. Bagai roda yang terus berputar, hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam akan senantiasa diriwayatkan, diperlihatkan, didengar dan dicatat oleh imam pencatat hadits dalam kitab-kitab mereka, seperti Imam Malik, Ahmad, asy-Syafi’i, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan yang lainnya. Kitab-kitab mereka ini terpelihara dengan baik dari zaman ke zaman yang akhirnya sampai kepada kita dan insya Allah terus terpelihara hingga akhir zaman.
Kemudian setelah thabaqah Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm (wafat th. 117 H) dan Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri (wafat th. 124 H), datanglah thabaqah kedua dengan pendiwanan (pembukuan) yang dilakukan secara resmi pula. Mereka ini terdiri dari ulama-ulama besar dan pemuka-pemuka ahli Hadits, di antaranya ialah:

1. Ibnu Juraij di Makkah
2. Sa'id bin Arubah
3. Al-Auza’i di Syam
4. Sufyan ats-Tsauri di Kufah
5. Imam Malik bin Anas di Madinah
6. ‘Abdullah Ibnul Mubarak
7. Hammad bin Salamah di Bashrah
8. Husyaim
9. Imam asy-Syafi'i
Mereka ini semuanya dari generasi Tabi'ut Tabi’in yang hidup pada zaman kedua Hijriyah. Cara pengumpulannya masih bercampur dengan perkataan-perkataan Shahabat dan fatwa-fatwa Tabi'in. Di antara kitab-kitab hadits yang paling masyhur pada abad ini ialah kitab al-Muwaththa’ yang disusun oleh Imam Malik bin Anas. Kemudian pada permulaan abad ketiga Hijriyah, bangkit kembali pemuka-pemuka ahli hadits yang membukukan hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam secara resmi. Dalam pengumpulan kali ini mereka menempuh dua cara, yaitu:

Pertama : Khusus mengumpulkan hadits-hadits yang shahih saja. Orang yang pertama kali mengumpulkannya ialah:

• Imam al-Bukhari (Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, lahir th. 194 H - wafat th. 256 H)
• Imam Muslim (Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, lahir th. 204 H - wafat th. 261 H)

Kedua : Hanya mengumpulkan hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam saja tanpa membedakan mana yang shahih dan mana yang tidak. Dalam kitab-kitab mereka ini terdapat hadits-hadits shahih, hasan dan dha’if, bahkan ada pula yang maudhu' (palsu). Kitab-kitab yang masyhur pada abad ketiga Hijriyah, antara lain :

1. Musnad Ahmad bin Hanbal (164 - 241 H)
2. Shahih al-Bukhari (194 - 256 H)
3. Shahih Muslim (204 - 261 H)
4. Sunan Abu Dawud (202 – 275 H)
5. Sunan ad-Darimi (181 – 255 H)
6. Sunan Ibni Majah (209 - 273 H)
7. Sunan an-Nasa-i (225 - 303 H)

Sedangkan kitab-kitab yang masyhur pada abad keempat Hijriyah, antara lain:

1. Shahih Ibnu Khuzaimah (223 - 311 H)
2. Mu'jamul Kabir, Mu'jamul Ausath, dan Mu'jamush Shaghir, yang disusun oleh ath-Thabrani (260-340 H)
3. Sunan ad-Daraquthni (306 - 385 H)
4. Al-Mustadrak al-Hakim (321 - 405 H)

Manuskrip-manuskrip para ulama ini terpelihara dengan rapi di berbagai perpustakaan dunia Islam. Kitab-kitab tersebut disalin dan dicetak ulang hingga tersebar ke berbagai pelosok dunia Islam. Kemudian kitab-kitab itu disyarah lagi oleh para ulama, ditahqiq, dan diringkas sanadnya. Demikianlah mata rantai yang tiada putus-putusnya dari rawi ke rawi terjaga dengan baik. Oleh karena itu, sudah semestinya kita mempercayainya. Walaupun ada orang-orang yang mencoba untuk membuat riwayat-riwayat palsu. Tapi para ulama telah membahas dan meneliti serta menerangkan dengan jelas dalam kitab-kitab khusus yang membahas tentang hadits-hadits dha'if dan palsu, sehingga dengan demikian tidak menimbulkan keraguan lagi dalam menerima hadits-hadits yang benar-benar berasal dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallaam.
Pada abad sekarang ini ada seorang pakar hadits yang bernama Syaikh al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani, beliau telah menyeleksi kitab-kitab Sunan dari Kutubus Sab’ah dengan membedakan antar yang shahih dan yang dha'if, kitab-kitab ini sudah dicetak. Di antaranya:

1. Shahih Sunan at-Tirmidzi dan Dha'if Sunan at-Tirmidzi,
2. Shahih Sunan Abi Dawud dan Dha'if Sunan Abi Dawud,
3. Shahih Sunan an-Nasa-i dan Dha'if Sunan an-Nasa-i,
4. Shahih Sunan Ibni Majah dan Dha'if Sunan Ibni Majah,
5. Shahih al-Adabul Mufrad dan Dha’if al-Adabul Mufrad,
6. Shahih Mawariduzh Zham’an dan Dha’if-nya,
7. Shahih at-Targhib wat Tarhib dan Dha’if-nya, dan kitab-kitab yang lainnya.

Bila mata rantai yang tiada putusnya dari zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para Shahabat, Tabi'in, Tabi’ut Tabi'in dalam penulisan hadits dan pembukuannya masih diragukan, maka orang yang meragukan adalah orang-orang yang zindiq, kufur, dan termasuk orang-orang yang paling bodoh di dunia tentang As-Sunnah, bahkan dihukumi keluar dari Islam. Dihukumi kafir karena dia telah menolak hujjah-hujjah As-Sunnah dan meragukan kebenaran yang datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.







BAB 3
KESIMPULAN
Periode pertama adalah masa turun wahyu dan pembentukan masyarakat islam (‘ashr al-wahy wa al-takwin), yaitu semenjak Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul sampai wafatnya.
Periode kedua adalah masa kehati-hatian dan penyedikitan riwayat (ashr al-tatsabbut wa al-iqlal min al-riwayah), yang di mulai dari awal pememrintahan Khalifah Abu Bakar sampai kepada akhir pemerintahan Kahalifah Ali Abi Thalib.
Periode ketiga adalah masa penyebaran riwayat ke daerah daerah (‘Ashar intisyar Al- Riwayat ila Al-Amshar) periode ini dimulai dari awal dinasti Umayyah sampai akhir abad pertama Hijriah.
Periode ke empat adalah masa penulisan dan pengkodifikasian Hadits . masanya dimulai dari abad kedua hijriah sampai akhir abad kedua Hijriah.
   



BAB 4
DAFTAR PUSTAKA
2.        Abu Azis, Syaikh Sa’ad. Buku Pintar Sunnah dan Bid’ah. Cet. I; Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006.
3.        Ash Shiddieqy, M. Hasbi. Kriteria Antara Sunnah dan Bid’ah. Cet. XI; Jakarta: Bulan Bintang, 1993.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url