PENENTUAN KADAR RHODAMIN B DALAM SAOS PADA RESTORAN SIAP SAJI DENGAN METODE KLT-DENSITOMETER




TUJUAN
1.        Untuk mengetahui apakah benar Rhodamin B terkandung dalam saos pada restoran siap saji.
2.        Untuk mengetahui kadar pewarna makanan sintetik berbahaya Rhodamin B yang terkandung dalam saos pada restoran siap saji.

LATAR BELAKANG PERCOBAAN

Peningkatan perekonomian kehidupan seseorang cenderung menyebabkan perubahan gaya hidup, salah satunya yaitu terjadinya perubahan pola makan yang mengarah kepada makanan cepat saji. Saus sambal merupakan salah satu pelengkap makanan cepat saji yang sering dijumpai. Zat warna sering ditambahkan ke dalam olahan makanan oleh produsen makanan. Kualitas makanan dapat diamati dari salah satu kriteria yakni dari warnanya. Untuk meningkatkan kualitas terhadap makanan dengan meningkatkan penampilan sehingga menarik keinginan konsumen terhadap
makanan tersebut maka zat warna sering ditambahkan ke dalam makanan. Disamping itu, penambahan zat warna pada makanan akan memberikan keseragaman pada produk makanan serta zat warna yang ditambahkan dapat mengembalikan kembali warna makanan yang hilang atau berubah selama proses pengolahan yang menyerupai warna asli dari bahan dasar makanan.
Pada mulanya, makanan diwarnai dengan zat warna alami yang diperoleh dari tumbuhan, hewan, atau mineral. Namun untuk memperoleh zat warna alami memerlukan proses yang panjang dengan biaya yang tidak murah serta zat warna yang didapatkan tidak sebanyak yang diharapkan. Disamping itu, kebanyakan zat warna alami tidak tahan terhadap pengaruh cahaya dan panas, sehingga jarang digunakan oleh industri makanan. Oleh sebab itu penggunaan zat warna sintetik semakin meluas. Banyak keunggulan-keunggulan yang dijumpai pada zat warna sintetik diantaranya adalah lebih stabil dan lebih tahan terhadap berbagai kondisi lingkungan, daya mewarnainya lebih kuat dan memiliki rentang warna yang lebih luas. Selain itu zat warna sintetik lebih murah dan lebih mudah untuk digunakan.
Pewarnaan pada makanan pada dasarnya adalah untuk menarik para konsumen agar menjadi lebih berminat dengan suatu produk yang dijual atau dipasarkan. Namun sebagian dari mereka menggunakan pewarna makanan yang tidak mendapatkan izin peredaran dari BPOM. Bahkan tidak jarang mengguanakan pewarna sintetik yang biasanya digunakan sebagai pewarna tekstil ( Winarno, 1984). Jenis pewarna makanan yang sering digunakan dan dilarang oleh BPOM berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Pangan Nomor : 00386/C/SK/II/90 tentang perubahan lampiran Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 239/Menkes/Per/V/85 tentang zat warna tertentu yang dinyakan sebagai bahan berbahaya ditetapkan beberapa bahan pewarna sintitis yang dilarang ditambahkan pada pangan antara lain adalah Auramin, Ponceau 3R dan Rhodamin B untuk pewarna merah atau orange dan Methantl Yellow untuk pewarna kuning (Anonim,2014).
Rhodamin B adalah jenis pewarna merah yang sering digunakan dalam produk olahan makanan dan dilarang oleh pemerintah. Saos merupakan pelengkap bahan makanan yang digunakan masyarakat karena menambah cita rasa pada makanan. Di dalam saos banyak mengandung bahan makanan seperti pengawet dan pewarna. Oleh karena hal itu peneliti berniat meneliti apakah pengawet dan pewarna yang digunakan aman untuk manusia dikarenakan tingkat konsumsi saos oleh masyarakat relatif tinggi dengan membandingkannya terhadap peraturan pada SNI-0222-1995 (Wijaya, 2011).


METODE PERCOBAAN
1. Bahan dan Alat
 Bahan :
Bahan yang digunakan: saos yang sudah disediakan laboratorium dan sampel saos dari restoran siap saji popeye, baku pembanding rhodamin B, pelat KLT silika GF254 , etanol p.a, butanol p.a, aquades.

 Alat :
Alat yang digunakan: Chamber, kertas saring, linomat, TLC scanner, timbangan analitik,   dan alat- alat gelas lainnya.

2. Cara kerja
a. Pereparasi Sampel
Ditimbang saksama masing-masing 4 gram sampel, dilarutkan dengan etanol 70%, disaring ke dalam labu ukur 10 mL dan di ad dengan etanol 70% sampai tanda batas. Lalu diultrasonifikasi selama 1 jam, kemudian disaring dengan kertas saring.
b. Pembuatan Fase Gerak/Eluen
Diukur volume eluen yang dibutuhkan berdasarkan volume chamber. Eluen dibuat dari campuran etanol:butanol:aquades (4:5:5) dengan total volume 30 mL. Setelah eluen dibuat, dimasukkan ke dalam chamber, ditutup dan dibiarkan sampai jenuh dengan kertas saring.
c. Pembuatan Kurva Baku
Dibuat larutan masing-masing baku pembanding dengan konsentrasi 20 ppm dengan pelarut etanol 70% dalam 100 ml labu ukur. Dibuat kurva baku dengan konsentrasi 4,6, 8,10 dan 12 ppm dari larutan stok. Dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml lalu di add dengan pelarut etanol 70%.
d. Penetapan kadar zat warna merah sintetik pada larutan sampel dengan Densitometri
Larutan sampel dan larutan baku pembanding masing-masing ditotolkan dengan linomat sebanyak 2 µl di atas pelat KLT. Pelat KLT dimasukkan kedalam bejana yang telah dijenuhkan dengan campuran pengembang etanol : butanol : aquades (4:5:5), bejana ditutup dan dibiarkan campuran pengembang naik sampai batas atas. Setelah dikembangkan, pelat KLT di scan dengan densitometer pada panjang gelombang maksimum masing-masing pembanding. Didapatkan data luas area dan nilai Rf sampel. Hitung konsentrasi pewarna merah sintetik dalam sampel menggunakan persamaan linearitas dan tentukan kadarnya.
e. Validasi Metode
Parameter validasi metode yang dilakukan meliputi: Pertama akurasi yang di hitung berdasarkan persentase perolehan kembali pada sampel. Yang kedua dihitung LOD dan LOQ.


3. Perhitungan pembuatan kurva baku dan/ atau validasi metode analisis
l  Konsentrasi 4 ppm
M1 x V1 = M2 x V2
20 ppm x V1= 4 ppm x 10 mL
V1 = 2 mL
l  Konsentrasi 6 ppm
M1 x V1 = M2 x V2
20 ppm x V1= 6 ppm x 10 mL
V1 = 3 mL
l  Konsentrasi 8 ppm
M1 x V1 = M2 x V2
20 ppm x V1= 8 ppm x 10
V1 = 4 mL
l    Konsentrasi 10 ppm
M1 x V1 = M2 x V2
20 ppm x V1= 10 ppm x 10 mL
V1 = 5 mL
l  Konsentrasi 12 ppm
M1 x V1 = M2 x V2
20 ppm x VI= 12 ppm x 10mL
V1 = 6 mL

REFERENSI/ DAFTAR PUSTAKA
1.        Armin,F.,dkk.,2015,Pengembangan dan Validasi Metode Kromatografi Lapis Tipis-Densitometri untuk Analisis Pewarna Merah Sintentik pada Beberapa Merek Saus Sambal Sachet,Jurnal Sains Farmasi & Klinis,Vol. 02 No. 01,Ikatan Apoteker Indonesia,Sumatera Barat.
2.        Winarno FG. 1984 Kimia Pangan dan Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. Jakarta :PT. Gramedia.
3.        Anonim. 2007. Kumpulan prosedur kimia air makanan dan minuman (amami). Universitas Setia Budi, Surakarta.
4.        Wijaya D., 2011, Waspadai Zat Addiktif dalam Makananmu, Buku Biru, Jogjakarta,40-22.

PEMBAHASAN

Praktikum yang dilakukan kali ini bertujuan untuk mengetahui apakah benar Rhodamin B terkandung dalam saos tomat dan saos sambal pada restoran siap saji popeye, serta untuk mengetahui kadar pewarna makanan sintetik berbahaya Rhodamin B yang terkandung dalam saos tomat dan saos sambal pada restoran siap saji popeye. Analisis yang dilakukan dalam percobaan kali ini yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif dengan metode kromatografi lapis tipis-Densitometer. Sampel saos yang digunakan adalah saos yang sudah disediakan dari laboratorium dan saos pada restoran siap saji popeye. Analisis Rhodamin B dalam saos ini dilakukan karena rhodamin B dalam makanan terutama saos perlu diawasi keberadaannya, sebab zat pewarna sintetis yang paling sering ditambahkan ialah rhodamin B. Rhodamin B merupakan pewarna sintesis yang biasa digunakan pada industri tekstil bukan industri makanan sehingga penggunaan rhodamin B dalam makanan sangat berbahaya bagi kesehatan.Rhodamin B yang dikonsumsi dalam jumlah cukup besar dan berulang ulang akan menyebabkan iritasi pada saluran penapasan, iritasi pada kulit, iritasi pada mata, iritasi pada pencernaan, keracunan, gangguan fungsi hati dan kanker hati.
Pada praktikum kali ini dilakukan penentuan kadar rhodamine B dengan menggunakan kromatografi lapis tipis-densitometer. Prinsip kromatografi lapis tipis-densitometer yaitu perbedaan kepolaranlike dissolve like” dimana pelarut yang bersifat polar akan berikatan dengan senyawa yang bersifat polar juga dan sebaliknya semakin dekat kepolaran antara senyawa dengan eluent maka senyawa akan semakin terbaca oleh fasegerak tersebut. Fase diam yang digunakan yaitu silika GF254. Plat silika ini bersifat polar dan cepat daya adsorpsinya. Plat silika yang gunakan berukuran 8 x 7 cm. Fase gerak yang digunakan yaitu campuran etanol:butanol:aquades (4:5:5). Etanol dan butanol dersifat semi polar sedangkan aquuades bersifat polar. Baku pembanding yang digunakan yaitu rhodamine B. Rhodhamine B berifat polar yang larut dalam air dan etanol.
Pada praktikum kali ini dilakukan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif yang dilakukan ini berfungsi untuk mengidentifikasi keberadaan Rhodamin B dalam sampel saos.Pada analisis kuantitatif dilakukan validasi metode analisis menggunakan akurasi dan sensitifitas. Pada validasi metode akurasi dihitung nilai % recovery. Pada sampel 1 didapatkan hasil sebesar 72.17% dan pada sampel 2 sebesar10.49%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kedua sampel mengandung rhodamine B akan tetapi kadar sampel 1 lebih besar dari kadar sampel ke 2. Pada literatur hasil %recovery yang bagus yaitu berkisar 92% - 108%. Pada validasi metode sensitifitas dihitung LOD dan LOQ. LOD yang didapat sebesar 79,54045504 ppm dan LOQ sebesar 241,031682 ppm
Pada analisis kualitatif dilakukan dengan cara membandingkan nilai Rf dari sampel saos dengan pembanding. Pada baku pembanding dibuat sebanyak 5 standar yaitu 4,6,8,10 dan 12 ppm. Pada baku pembanding diperoleh nilai Rf sebesar 0.63. Pada sampel 1 diperoleh Rf sebesar 0.57 dan sampel 2 diperoleh Rf sebesar 0.59. Dari hasil Rf yang diperoleh menunjukkan bahwa kepolaran sampel dan baku pembanding hampir sama karena perbandingan Rf dengan sampel hanya selisih sedikit. AUC yang didapat yaitu pada baku pembanding 4 ppm sebesar 939.4, pada baku pembanding 6 ppm sebesar 732, pada baku pembanding 8 ppm sebesar 769.8, pada baku pembanding 10 ppm sebesar 860.6, pada baku pembanding 12 ppm sebesar 836.8, pada sampel 1 sebesar 1983.4 dan pada sampel 2 sebesar 1023.9. Hasil tersebut kurang bagus karena seharusnya semakin besar kadar kurva baku maka semakin besar pula AUC, tetapi pada hasil praktikum ini didapatkan hasil AUC yang hasilnya naik turun. Hal tersebut disebabkan banyak faktor diantaranya belum jenuhnya chamber karena proses pengembangan tidak sampai batas yang ditentukan, fase gerak yang tidak tepat, atau karena kurang telitinya praktikan mengambil larutan dalam pembuatan baku pembanding. Faktor lain yaitu karena kurang hati - hatinya praktikan memasukkan plat silika gel kedalam chamber yang dimana plat silika tersebut tidak boleh tercelup kedalam eluen agar rhodamin B tidak ikut larut dalam fase gerak yang bila ikut larut akan sulit dipisahkan. Deteksi bercak dilakukan dengan menggunakan sinar UV 254 nm dan 366 nm.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url