Koloid By Purwohadi


Koloid atau disebut dispersi koloid atau sistem koloid adalah sistem dispersi yang memiliki ukuran partikel lebih besar dari larutan, tetapi lebih kecil daripada suspensi. Umumnya koloid mempunyai ukuran partikel sekitar 1 nm-100 nm.
Jenis Koloid berdasarkan ukuran partikel ada 3 sebagai berikut
1.      Dispersi Molekuler : Ukuran kurang dari 1,0 nm. Memiliki sifat partikel tidak terlihat dalam mikroskop elektron, mengalami difusi cepat,dapat melewati membran semipermeabel dan ultrafiltrasi .
2.      Dipersi koloid :  Ukuran 0,5µm sampai 1,0nm. Memiliki sifat partikel tidak terlihat mikroskop biasa walapun partikel tersebut mungkin dapat dideteksi dibawah ulramikroskop, difusi sangat  lambat,dapat melewati kertas saring.
3.      Dipersi kasar : Ukuran lebih besar dari 0,5µm. Memiliki sifat partikel terlihat dibawah mikroskop, tidak dapat melewati kertas saring normal, partikel tidak mendifusi.
Zeta Potensial adalah parameter muatan listrik antara partikel koloid. Makin tinggi nilai potensial zeta maka akan semakin mencegah terjadinya flokulasi/ (peristiwa penggabungan koloid dari yang kecil menjadi besar). Dengan mengurangi nilai potensial zeta maka memungkinkan partikel untuk saling tarik menarik dan terjadi flokulasi.
Kegunaan Zeta Potensial
§ Untuk mengetahui kestabilan suatu larutan
§ Untuk memprediksi morfologi permukaan suatu partikel
§ Untuk mengetahui muatan permukaan (surface charge)
Sifat koloid Efek Tyndal: Bila suatu berkas cahaya yang kuat dilewati melalui sol koloid akan terlihat suatu kerucutan yang dihasilkan dari pemendaran cahaya oleh patikel partikel koloid.
Contohnya:
  1. Terjadinya warna biru di langit pada siang hari dan warna merah atau jingga di langit pada saat matahari terbenam di ufuk barat.
  2. Sorot lampu proyektor di gedung bioskop akan tampak jelas ketika ada asap rokok.
  3. Sorot lampu mobil pada malam yang berkabut.
  4. Berkas sinar matahari yang melalui celah daun pepohonan pada pagi hari yang berkabut.

Sifat koloid Gerak Brown: Gerakan partikel koloid terus-menerus dengan gerak patah-patah (zig-zag), yang diakibatkan oleh adanya tumbukan antara partikel-partikel koloid dengan medium pendispersinya.
Sifat koloid Koagulasi atau penggumpalan adalah peristiwa pengendapan partikel-partikel koloid sehingga fase terdispersi terpisah dari medium pendispersinya. Koagulasi disebabkan hilangnya kestabilan untuk mempertahankan partikel-partikel agar tetap tersebar di dalam medium pendispersinya. Koagulasi dapat dilakukan secara mekanis, fisis dan kimia.
Kegunaan Koloid untuk membantu dalam menyelesaikan masalah yang timbul pada penyiapan dan peracikan bentuk sediaan obat. Contoh koloid dalam bidang farmasi adalah krim, dan salep.
Kelebihan koloid : Dapat menggumpalkan darah, Penjernih air, Pemutihan Gula
Kekuranag koloid : Polusi, Masalah Lingkungan
Cara Pembuatan Koloid
A. Kondensasi
Kondensasi adalah cara pembuatan koloid dari partikel kecil (larutan) menjadi partikel koloid. Proses kondensasi ini didasarkan atas reaksi kimia; yaitu melalui reaksi redoks, reaksi hidrolisis, dekomposisi rangkap, dan pergantian pelarut.
1) Reaksi Redoks
Contoh
Pembuatan sol belerang dari reaksi redoks antara gas H 2 S dengan larutan SO 2 .
Persamaan reaksinya: 2 H 2 S (g) + SO 2 (aq) →2 H 2 O (l) + 3 S (s)
Pembuatan sol emas dari larutan AuCl 3 dengan larutan encer formalin (HCHO).
Persamaan reaksinya:
2 AuCl 3(aq) + 3 HCHO (aq) + 3H 2 O (l) → 2 Au (s) + 6HCl (aq) + 3 HCOOH (aq)
2) Reaksi Hidrolisis
Contoh, pembuatan sol Fe(OH) 3 dengan penguraian garam FeCl 3 Persamaan reaksinya adalah: mengunakan air mendidih.
FeCl 3 (aq) + 3 H 2 O (l) → Fe(OH) 3 (s) + 3 HCl ( aq)
3) Reaksi Dekomposisi Rangkap
Contoh
a) Pembuatan sol As 2 S 3, dibuat dengan mengalirkan gas H 2 S dan asam arsenit (H 3 AsO 3 ) yang encer.
Persamaan reaksinya: 2 H 3 AsO 3 (aq) + 3 H 2 S (g) → As 2 S 3 (s) + 6H 2 O (l)
b) Pembuatan sol AgCl dari larutan AgNO 3 dengan larutan NaCl encer.
Persamaan reaksinya: AgNO 3 (aq) + NaC1 (aq) → AgCl (s) + NaNO 3 (aq)
4) Reaksi Pergantian Pelarut
Contoh, pembuatan sol belerang dari larutan belerang dalam alkohol ditambah dengan air. Persamaan reaksinya:
S (aq) + alkohol + air → S (s) Larutan S sol belerang
B. Dispersi
Dispersi
adalah pembuatan partikel koloid dari partikel kasar (suspensi). Pembuatan koloid dengan dispersi meliputi: cara mekanik, peptisasi, busur Bredig, dan ultrasonik.
1) Proses Mekanik
Proses mekanik adalah proses pembuatan koloid melalui penggerusan atau penggilingan (untuk zat padat) serta dengan pengadukan atau pengocokan (untuk zat cair). Setelah diperoleh partikel yang ukurannya sesuai dengan ukuran koloid, kemudian didispersikan ke dalam medium (pendispersinya). Contoh, pembuatan sol belerang.
2) Peptisasi
Peptisasi adalah cara pembuatan koloid dengan menggunakan zat kimia (zat elektrolit) untuk memecah partikel besar (kasar) menjadi partikel koloid. Contoh, proses pencernaan makanan dengan enzim dan pembuatan sol belerang dari endapan nikel sulfida, dengan mengalirkan gas asam sulfida.
3) Busur Bredig
Busur Bredig ialah alat pemecah zat padatan (logam) menjadi partikel koloid dengan menggunakan arus listrik tegangan tinggi. Caranya adalah dengan membuat logam, yang hendak dibuat solnya, menjadi dua kawat yang berfungsi sebagai elektrode yang dicelupkan ke dalam air; kemudian diberi loncatan listrik di antara kedua ujung kawat. Logam sebagian akan meluruh ke dalam air sehingga terbentuk sol logam. Contoh, pembuatan sol logam.
4) Suara Ultrasonik
Cara ini hampir sama dengan cara busur Bredig, yaitu sama-sama untuk pembuatan sol logam. Ka1au busur Bredig menggunakan arus listrik tegangan tinggi, maka cara ultrasonik menggunakan energi bunyi dengan frekuensi sangat tinggi, yaitu di atas 20.000 Hz.











Sumber: Martin,alfred,1993,Farmasi Fisik Edisi 3 Jilid ,Ui Press, Jakarta
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url