VALIDASI METODE ANALISIS

Validasi metode analisis adalah proses pengujian karakter kinerja metode analisis melalui serangkaian uji laboratorium.
Tujuan: untuk menjamin  bahwa metode analisis yang digunakan mampu memberikan hasil yang cermat dan handal hingga dapat dipercaya.
Parameter validasi metode analisis yang harus diuji:
  1. Kecermatan (akurasi)
•       Kecermatan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analisis dengan kadar analit yang sebenarnya.
•       Cara penentuan kecermatan:
  1. Metode simulasi (spiked-placebo recovery): Analisis kadar analit yang ditambahkan  ke dalam matriks sampel (plasebo) yang dianalisis
  2. Metode penambahan baku (standard addition method): Jika matriks dan eksipien  tidak tersedia, maka akurasi dinyatakan sebagai  persen perolehan kembali  kadar analit yang ditambahlkan pada produk jadi yang sudah mengandung analit.
  3. Analisis kadar analit dengan  metode yang divalidasi terhadap  sampel yang telah diketahui  kadarnya. Sampel yang digunakan adalah sampel acuan baku yang dikeluarkan  badan resmi ( SRM dari NIST, dll)
  4. Membandingkan hasil analisis analit dengan metode yang divalidasi terhadap hasil dengan metode standar (cara grafik)

  1. Keseksamaan (presisi)

Presisi adalah tingkat kesesuaian  antara hasil analisis individual jika prosedur dilakukan berulang kali terhadap sampel  ganda atau beberapa sampel yang homogen
Presisi metode analisis dinyatakan sebagai  simpangan baku relatif (RSD) atau koefisien variasi (KV).
Ada tiga jenis presisi, yaitu: repeatability (keterulangan), presisi antara dan reprodusibilitas (ketertiruan)
  1. Repeatability (keterulangan)
            Keterulangan adalah kemampuan  metode untuk memberikan  hasil analisis yang sama untuk beberapa sampel yang kadarnya sama yang dilakukan oleh satu orang  analis pada waktu tertentu terhadap beberapa sampel yang sama
            Keterulangan diukur terhadap  6 jenis sampel  dengan konsentrasi sama (100% dari konsentrasi aktual) atau 3 jenis  sampel dengan konsentrasi 80, 100, 120% dari konsentrasi  aktual yang ditetapkan masing-masing tiga kali (triplikasi) (menurut ICH).
  1. Presisi antara (intermediate precision)
            Presisi antara adalah pengukuran kinerja metode di mana  sampel-sampel diuji dan dibandingkan, dilakukan oleh analis yang berbeda, menggunakan peralatan berbeda dan pada hari yang berbeda.  Presisi antara tidak perlu diuji jika kajian reprodusibilitas telah dilakukan.  Nama lain presisi antara adalah “Ruggedness”
  1. Reprodusibilitas (ketertiruan)
            Uji ketertiriuan merupakan pengujian presisi yang terakhir dan tuntas.
            Reprodusibilitas diuji dengan cara menyiapkansampel yang homogen dan stabil, lalu diuji oleh beberapa laboratorium  (studi kolaboratif). Hasil ini akan memperlihatkan adanya galat acak yang disebabkan  oleh sampel dan laboratorium, serta galat sistematik. Datanya diolah dengan uji ANOVA
d.   Presisi sistem atau instrumen
        Keragaman dalam pengukuran menggunakan  suatu instrumen akan memberikan kontribusi pada presisi sistem. Oleh karena itu sistem yang digunakan harus diuji kesesuaiannya meliputi misalnya keterulangan penyuntikan pada Kromatografi
                       
3.             Selektivitas atau spesifisitas suatumetode adalah kemampuannya yang hanya mengukur zat tertentu saja secara cermat dan seksama dengan adanya komponen lain yang mungkin ada dalam matriks sampel. Atau sering juga diartikan spesifisitas adalah kemampuan untuk mengukur yang dituju secara tepat dan spesifik dengan adaya komponen-komponen lain dengan matriks sampel seperti ketidak murnian produk degradasi dan kompoen  matriks.

Selektivitas seringkali dapat dinyatakan sebagai derajat penyimpangan (degree of bias) metode yang dilakukan terhadap sampel yang mengandung bahan yang ditambahkan berupa cemaran, hasil urai, senyawa sejenis, senyawa asing lainnya, dan dibandingkan terhadap hasil analisis sampel yang tidak mengandung bahan lain yang ditambahkan.
ICH membagi spesifisitas dalam dua ategori yakni uji identifikasi dan uji kemurnian atau pengukuran. Untuk tujuan identifikasi, spesifisitas ditunjukkan dengan suatu metode analisis untuk membedakan antar senyawa yang mempunyai struktur molekul yang hampir sama. Untuk tujuan uji kemurnian dan tujuan pengukuran kadar spesifsitas ditunjjukkan oleh daya pisah dua senyawa yang berdekatan. Senyawa-senyawa tersebut biasanya adalah komponen utama atau komponen aktif dan atau suatu pengotor.
Penentuan spesifisitas metode dapat diperoleh dengan dua jalan yang pertama adalah dengan melakukanoptimasi sehingga diperoleh senyawa yang dituju terpisah secara sempurna dari senyawa-senyawa lain (pada solusi senyawa yang dituju > dua). Cara kedua untuk memperoleh spesifisitas adalah dengan meggunakan detektif selektif, terutama untuk senyawa-senyawa yang terelusi secara bersama-sama. Sebagai cotoh detector elektro kimia atau detector fluoresen hanya akan mendeteksi senyawa tertetu, sementara senya yang lainnya tidak terdeteksi.
Selektivitas metode ditentukan dengan membandingkan hasil analisis sampel yang mengandung cemaran, hasil urai, senyawa sejenis, senyawa asing lainnya atau pembawa plasebo dengan hasil analisis sampel tanpa penambahan bahan-bahan tadi.
Penyimpangan hasil jika ada merupakan selisih dari hasil uji keduanya. Jika cemaran dan hasil urai tidak dapat diidentifikasi atau tidak dapat diperoleh, maka selektivitas dapat ditunjukkan dengan cara menganalisis sampel yang mengandung cemaran atau hasil uji urai dengan metode yang hendak diuji lalu dibandingkan dengan metode lain untuk pengujian kemurnian seperti kromatografi, analisis kelarutan fase, dan Differential Scanning Calorimetry. Derajat kesesuaian kedua hasil analisis tersebut merupakan ukuran selektivitas.Pada metode analisis yang melibatkan kromatografi, selektivitas ditentukan melalui perhitungan daya resolusinya (Rs).
4.    Batas Deteksi (Limit of Detection) dan Batas Kuantitasi (Limit of Quatification)
Batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan dengan blangko.Batas deteksi merupakan parameter uji batas. Batas kuantitasi merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama (Riyadi Wahyu , 2009).
Batas deteksi didefenisikan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel yang masih dapat dideteksi Batas deteksi merupakan parameter uji batas. Batas kuantitasi merupakan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel yang dapat ditentukan dengan presisi dan akurasi yang dapat diterima pada kondisi operasional metode yang digunakan  (Rahman Abdul, 2009).
5.    Linearitas dan Rentang 
Linearitas adalah kemampuan metode analisis memberikan respon proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel.Rentang metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi analit yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan, keseksamaan, dan linearitas yang dapat diterima.
6.    Kisaran
Kisaran suatu metode didefinisikan konsentrasi terndah dan tertinggi yang mana suatu metode analisis menunjukkan akurasi presisi dan linearitas yang mencukupi. Kisaran-kisaran konsentrasi yang diuji tergantung pada jenis metode dan kegunaannya untuk pengujian komponen utama (mayor ) maka konsentrasi baku harus diukur didekat atau sama dengan konsentrasi kandungan analit yang diharapkan.
7.    Kekasaran (Ruggudness)
Kekasaran merupakan tinggkat  Reprodusibilitas hal yang diperoleh dibawah kondisi yang bermacam-macam yang diekspresikan sebagai larutan kadar deviasi relaitv (persend) kondisi-kondisi ini laboratorium analisis alat reagen dan waktu percobaan yang berbeda.
Kekasaran metode adalah derajat ketertiruan hasil uji yang diperoleh dari analisis sampel yang sama dalam berbagai kondisi uji normal, seperti laboratorium, analisis, instrumen, bahan pereaksi, suhu, hari yang berbeda, dll. Ketangguhan biasanya dinyatakan sebagai tidak adanya pengaruh perbedaan operasi atau lingkungan kerja pada hasil uji.Ketangguhan metode merupakan ukuran ketertiruan pada kondisi operasi normal antara lab dan antar analis.
8.    Kekuatan (Robustness) 
Ketahahn merupakan kapasitas metode analisis untuk tetap tidak trerpengaruh oleh adanya variasi parameter metode yang kecil.
9.    Uji kesesuaian system
Sebelum melakukan analisis setiap hari seorang analis harus memastikan bahwa system dan prosedur yang digunakan harus mampu memberikan data yang dapat diterima.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url