VALIDASI METODE ANALISIS
Validasi metode analisis adalah proses pengujian karakter kinerja metode
analisis melalui serangkaian uji laboratorium.
Tujuan: untuk menjamin bahwa metode
analisis yang digunakan mampu memberikan hasil yang cermat dan handal hingga
dapat dipercaya.
Parameter validasi metode analisis yang harus diuji:
- Kecermatan (akurasi)
• Kecermatan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analisis
dengan kadar analit yang sebenarnya.
• Cara penentuan kecermatan:
- Metode simulasi (spiked-placebo recovery): Analisis kadar analit yang ditambahkan ke dalam matriks sampel (plasebo) yang dianalisis
- Metode penambahan baku (standard addition method): Jika matriks dan eksipien tidak tersedia, maka akurasi dinyatakan sebagai persen perolehan kembali kadar analit yang ditambahlkan pada produk jadi yang sudah mengandung analit.
- Analisis kadar analit dengan metode yang divalidasi terhadap sampel yang telah diketahui kadarnya. Sampel yang digunakan adalah sampel acuan baku yang dikeluarkan badan resmi ( SRM dari NIST, dll)
- Membandingkan hasil analisis analit dengan metode yang divalidasi terhadap hasil dengan metode standar (cara grafik)
Presisi adalah tingkat
kesesuaian antara hasil analisis
individual jika prosedur dilakukan berulang kali terhadap sampel ganda atau beberapa sampel yang homogen
Presisi metode analisis
dinyatakan sebagai simpangan baku
relatif (RSD) atau koefisien variasi (KV).
Ada tiga jenis presisi, yaitu:
repeatability (keterulangan), presisi antara dan reprodusibilitas (ketertiruan)
- Repeatability (keterulangan)
Keterulangan adalah
kemampuan metode untuk memberikan hasil analisis yang sama untuk beberapa
sampel yang kadarnya sama yang dilakukan oleh satu orang analis pada waktu tertentu terhadap beberapa
sampel yang sama
Keterulangan diukur terhadap 6 jenis sampel dengan konsentrasi sama (100% dari
konsentrasi aktual) atau 3 jenis sampel dengan
konsentrasi 80, 100, 120% dari konsentrasi
aktual yang ditetapkan masing-masing tiga kali (triplikasi) (menurut
ICH).
- Presisi antara (intermediate precision)
Presisi antara adalah
pengukuran kinerja metode di mana
sampel-sampel diuji dan dibandingkan, dilakukan oleh analis yang
berbeda, menggunakan peralatan berbeda dan pada hari yang berbeda. Presisi antara tidak perlu diuji jika kajian
reprodusibilitas telah dilakukan. Nama
lain presisi antara adalah “Ruggedness”
- Reprodusibilitas (ketertiruan)
Uji ketertiriuan merupakan
pengujian presisi yang terakhir dan tuntas.
Reprodusibilitas diuji dengan cara menyiapkansampel yang
homogen dan stabil, lalu diuji oleh beberapa laboratorium (studi kolaboratif). Hasil ini akan
memperlihatkan adanya galat acak yang disebabkan oleh sampel dan laboratorium, serta galat
sistematik. Datanya diolah dengan uji ANOVA
d. Presisi sistem atau instrumen
Keragaman dalam pengukuran
menggunakan suatu instrumen akan
memberikan kontribusi pada presisi sistem. Oleh karena itu sistem yang
digunakan harus diuji kesesuaiannya meliputi misalnya keterulangan penyuntikan
pada Kromatografi
3.
Selektivitas atau spesifisitas
suatumetode adalah kemampuannya yang hanya mengukur zat tertentu saja secara
cermat dan seksama dengan adanya komponen lain yang mungkin ada dalam matriks
sampel. Atau sering juga diartikan spesifisitas adalah kemampuan untuk mengukur
yang dituju secara tepat dan spesifik dengan adaya komponen-komponen lain
dengan matriks sampel seperti ketidak murnian produk degradasi dan
kompoen matriks.
Selektivitas seringkali dapat dinyatakan sebagai
derajat penyimpangan (degree of bias) metode yang dilakukan terhadap sampel
yang mengandung bahan yang ditambahkan berupa cemaran, hasil urai, senyawa
sejenis, senyawa asing lainnya, dan dibandingkan terhadap hasil analisis sampel
yang tidak mengandung bahan lain yang ditambahkan.
ICH membagi spesifisitas dalam dua ategori yakni
uji identifikasi dan uji kemurnian atau pengukuran. Untuk tujuan identifikasi,
spesifisitas ditunjukkan dengan suatu metode analisis untuk membedakan antar
senyawa yang mempunyai struktur molekul yang hampir sama. Untuk tujuan uji
kemurnian dan tujuan pengukuran kadar spesifsitas ditunjjukkan oleh daya pisah
dua senyawa yang berdekatan. Senyawa-senyawa tersebut biasanya adalah komponen
utama atau komponen aktif dan atau suatu pengotor.
Penentuan spesifisitas metode dapat diperoleh
dengan dua jalan yang pertama adalah dengan melakukanoptimasi sehingga
diperoleh senyawa yang dituju terpisah secara sempurna dari senyawa-senyawa
lain (pada solusi senyawa yang dituju > dua). Cara kedua untuk memperoleh
spesifisitas adalah dengan meggunakan detektif selektif, terutama untuk
senyawa-senyawa yang terelusi secara bersama-sama. Sebagai cotoh detector elektro
kimia atau detector fluoresen hanya akan mendeteksi senyawa tertetu, sementara
senya yang lainnya tidak terdeteksi.
Selektivitas metode ditentukan dengan
membandingkan hasil analisis sampel yang mengandung cemaran, hasil urai,
senyawa sejenis, senyawa asing lainnya atau pembawa plasebo dengan hasil
analisis sampel tanpa penambahan bahan-bahan tadi.
Penyimpangan hasil jika ada merupakan selisih
dari hasil uji keduanya. Jika cemaran dan hasil urai tidak dapat diidentifikasi
atau tidak dapat diperoleh, maka selektivitas dapat ditunjukkan dengan cara
menganalisis sampel yang mengandung cemaran atau hasil uji urai dengan metode
yang hendak diuji lalu dibandingkan dengan metode lain untuk pengujian kemurnian
seperti kromatografi, analisis kelarutan fase, dan Differential Scanning
Calorimetry. Derajat kesesuaian kedua hasil analisis tersebut merupakan ukuran
selektivitas.Pada metode analisis yang melibatkan kromatografi, selektivitas
ditentukan melalui perhitungan daya resolusinya (Rs).
4. Batas Deteksi (Limit
of Detection) dan Batas Kuantitasi (Limit of Quatification)
Batas deteksi adalah jumlah
terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi yang masih memberikan respon
signifikan dibandingkan dengan blangko.Batas deteksi merupakan parameter uji
batas. Batas kuantitasi merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan
sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi
kriteria cermat dan seksama (Riyadi Wahyu , 2009).
Batas deteksi didefenisikan sebagai konsentrasi
analit terendah dalam sampel yang masih dapat dideteksi Batas deteksi merupakan
parameter uji batas. Batas kuantitasi merupakan sebagai konsentrasi analit
terendah dalam sampel yang dapat ditentukan dengan presisi dan akurasi yang
dapat diterima pada kondisi operasional metode yang digunakan (Rahman
Abdul, 2009).
5. Linearitas dan
Rentang
Linearitas adalah kemampuan
metode analisis memberikan respon proporsional terhadap konsentrasi analit
dalam sampel.Rentang metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi
analit yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan, keseksamaan,
dan linearitas yang dapat diterima.
6. Kisaran
Kisaran suatu metode
didefinisikan konsentrasi terndah dan tertinggi yang mana suatu metode analisis
menunjukkan akurasi presisi dan linearitas yang mencukupi. Kisaran-kisaran
konsentrasi yang diuji tergantung pada jenis metode dan kegunaannya untuk
pengujian komponen utama (mayor ) maka konsentrasi baku harus diukur didekat atau
sama dengan konsentrasi kandungan analit yang diharapkan.
7. Kekasaran (Ruggudness)
Kekasaran merupakan
tinggkat Reprodusibilitas hal yang diperoleh dibawah kondisi yang
bermacam-macam yang diekspresikan sebagai larutan kadar deviasi relaitv
(persend) kondisi-kondisi ini laboratorium analisis alat reagen dan waktu
percobaan yang berbeda.
Kekasaran metode adalah
derajat ketertiruan hasil uji yang diperoleh dari analisis sampel yang sama
dalam berbagai kondisi uji normal, seperti laboratorium, analisis, instrumen,
bahan pereaksi, suhu, hari yang berbeda, dll. Ketangguhan biasanya dinyatakan
sebagai tidak adanya pengaruh perbedaan operasi atau lingkungan kerja pada
hasil uji.Ketangguhan metode merupakan ukuran ketertiruan pada kondisi operasi
normal antara lab dan antar analis.
8. Kekuatan (Robustness)
Ketahahn merupakan kapasitas metode analisis
untuk tetap tidak trerpengaruh oleh adanya variasi parameter metode yang kecil.
9. Uji kesesuaian system
Sebelum melakukan analisis setiap hari seorang
analis harus memastikan bahwa system dan prosedur yang digunakan harus mampu
memberikan data yang dapat diterima.
